Tata Spasial Candi Bahal I, II dan III di Padang Lawas Utara, Sumatera Utara

by

Ari Siswanto1, Ardiansyah2, Farida3, Kristantina Indriastuti4

1,2 Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya, Palembang
3 Program Studi Sejarah, Fakultas Keguruan dan ILmu Pendidikan, Universitas Sriwijaya, Palembang
4 Balai Arkeologi Palembang, Palembang.

https://doi.org/10.32315/jlbi.9.1.63

Abstrak

Situs percandian Bahal di Padang Lawas Utara yang terdiri dari tiga kompleks yang berdekatan memberikan gambaran pola tata spasial yang terkait dengan lingkungannya. Masing-masing kompleks percandian memiliki tata spasial yang berbeda karena jumlah massa yang berbeda. Tujuan penelitian adalah mengkaji tata spasial kompleks percandian Bahal I, II dan III serta menganalisis keterkaitannya dengan karakteristik candi. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus digunakan melalui kegiatan observasi, pengukuran, penggambaran dan wawancara di lapangan. Layout candi Bahal I, II dan III membentuk konfigurasi massa dan spasial yang jelas. Ketiga kompleks percandian tersebut menunjukkan axis yang kuat serta hierarkhi yang jelas berdasarkan pada jumlah massa candi Perwara dan dimensi candi utama. Axis yang terbentuk dari pola tata spasial telah mempertegas candi sebagai bangunan suci yang memiliki formalitas dan keseimbangan yang sangat kuat.

Kata-kunci : candi Bahal, tata spasial, orientasi dan hierarkhi

Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia 9 (1), 63-68
Download PDF

Daftar Pustaka

  1. Siswanto, A., Farida, & Ardiansyah, H. W. S. (2017). Pariwisata dan Pelestarian: Suatu Pendekatan untuk Mencegah Kerusakan pada Bangunan Candi Masa Sriwijaya. (1937), C029–C038. https://doi.org/10.32315/sem.1.c029
  2. Bose, P. N. (1926). Principles of Indian Silpasastra (T. W.-K. & E. Scholars, ed.). Lahore: Moti Lal Banarsi Das.
  3. Dupont, P. (1937). F. M. Schnitger : The Archaeology of Hindoo-Sumatra. Bulletin de l”Ecole Francaise d’Extreme-Orient, 37, 527–529.
  4. Hardy, A. (2016). Hindu Temples and the Emanating Cosmos. Religion and the Arts, 20 (1–2), 112–134. https://doi.org/10.1163/15685292-02001006
  5. Harto, D. B. (2005). Tata Cara Pendirian Candi Perspektif Negara kertagama. Imajinasi, 1 (2), 1–18.
  6. Lahiri, N., & Bacus, E. A. (2004). Exploring the archaeology of Hinduism. World Archaeology, 36 (3), 313–325. https://doi.org/10.1080/00438240420000282768
  7. Leonard, K. (2011). Hindu temples in Hyderabad: State patronage and politics in South Asia. South Asian History and Culture, 2(3), 352–373. https://doi.org/10.1080/19472498.2011.577568
  8. Mulyati, S. (2012). Beberapa Upaya Konservasi Pencegahan di Sumatera (Sebuah Solusi Alternatif). Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur, 6 (7), 36–43.
  9. Perret, D. (Ed.). (2014). History of Padang Lawas North Sumatra II. Cahier d’Archipel 43 Paris 2014.
  10. Prasetyo, H. E. A. S. (2014). Anasir-anasir Esoterisme Pada Situs Candi Cetho. AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah, 2 (1), 110–121.
  11. Ray, H. P. (2009). The shrine in early Hinduism: The changing sacred landscape. Journal of Hindu Studies, 2 (1), 76–96. https://doi.org/10.1093/jhs/hip006
  12. Santiko, H. (2014). The Structure of Stupas at Muara Jambi. Kalpataru, 23 (2), 113–120.
  13. Sasiwongsaroj, K., Pornsiripongse, S., Burasith, Y., Ketjamnong, P., & Koosakulrat, N. (2012). Buddhist Temple: The Well-being Space for the Aged in Thailand. 20 (2), 2–19.
  14. Sastri, N. (1940). I. Sri Vijaya. Bulletin de l’Ecole Française d’Extrême-Orient, 40 (2), 239–313. https://doi.org/10.3406/befeo.1940.4796
  15. Susetyo, S. (2014). AR. (4), 101–112.
  16. Wiyanarti, E. (2018). River and Civilization in Sumatera’s Historical Perspective in the 7th to 14th Centuries. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 145 (1). https://doi.org/10.1088/1755-1315/145/1/012123