Singkretisme Islam – ‘to manurung’ pada Rumah Panggung Tiang Tunggal di Desa Limbung Enrekang

by

Mohammad Mochsen Sir1, Zulkarnain A. S.2

1 Teori, Sejarah dan Lingkung Perilaku, Departemen Arsitektur, Teknik Universitas Hasanuddin Makassar
2 Teori Sejarah Arsitektur, Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik dan Sains UIN Alauddin Makassar

https://doi.org/10.32315/jlbi.9.1.55

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh minimnya informasi maupun pengetahuan mengenai fenomena rumah tradisional yang hanya memiliki satu tiang utama dan dibangun di atas tanah adat Limbuang, serta secara visual pada fasad rumah tradisional tersebut menggunakan simbol-simbol Islam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui singkretisme islam dengan kepercayaan To Manurung pada Rumah Tradisional Tiang Tunggal baik yang bersifat tangible maupun intangible. Penelitian ini menggunakan metode deskriftif kualitatif, lokasi penelitian berada di Desa Limbuang Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan filosofi 1 (tunggal) dan 12 pada rumah ini, terletak pada tiang utama, jumlah anak tangga, kamar, jendela, atap dan bubungan rumah. Makna filosofi dari tunggal dalam pandangan Islam adalah ke-Esa-an Allah dan dalam pandangan adat dinisbatkan pada To Manurung, sedangkan angka 12 pada pandangan islam sebagai angka-angka yang terdapat dalam Alquran yang memiliki makna khusus, dan dalam pandangan adat angka 12 disimbolkan sebagai 12 jejak kaki (to manurung dengan 5 orang menterinya).

Kata-kunci : singkretisme, islam, to manurung, rumah tradisional, tiang tunggal.

Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia 9 (1), 55-62
Download PDF

Daftar Pustaka

  1. Abdullah, H. (1985). Manusia Bugis Makassar. Jakarta : Intidayu Press.
  2. Ali, A. (2013). Syncretic Architecture of Fatehpur Sikri: A Symbol of Composite Culture. Journal of Islamic Architecture, 2 (3), June 2013, pp.101-105.
  3. Antoniades, A. C. (1992). Poetic of Architecture: Theory of Design. New York: Van Nostr and Reinhold.
  4. Antariksa (2002), Study on the Philosophy and Architecture of Zen Buddhism in Japan. Dimensi Teknik Arsitektur, 30 (1), Juli 2002:54-60.
  5. Ascott, R. (2009), Syncretic Reality: Art, Process, and Potentiality. Edicao, 2/2009 – ISSN 1984-3585.
  6. Ashadi (2017). Sinkretisme Dalam Arsitektur : Metodologi. Jakarta : Univeritas Muhammadiyah Jakarta
  7. AS Zulkarnain. (2015). Wujud Arsitektural Rumah Tradisional Duri Asli Di Kabupaten Enrekang. Jurnal Nature: National Academic Journal of Architecture, 2 (2). http://103.55.216.55/index.php/nucturenature/article/view/907
  8. AS Zulkarnain, Mutmainnah (2017). Lokalitas Struktur & Material Konstruksi Rumah Adat Sapo Battoa Desa Kaluppini, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Jurnal Nature: National Academic Journal of Architecture, 4, (1). http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/nucturenature /article/view/2785
  9. AS Zulkarnain, Andi Hildayanti. (2018). Integrasi Konsep Arsitektur Islam Pada Rumah Adat Saoraja Lapinceng Kabupaten Barru. Jurnal Nature: National Academic Journal of Architecture, 5 (1).
    http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/nucturenature /article/view/3954
  10. AS Zulkarnain. (2018). Hirarki Spasial Vertikal Rumah Adat Matakali Maiwa. Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 3, A 129-134.
    https://seminar.iplbi.or.id/hirarki-spasial-vertikal-rumah-adat-matakali-maiwa/
  11. AS Zulkarnain. (2018). Rumah Adat Sappo Lalanan Kaluppini Kabupaten Enrekang. Jurnal Nature: National Academic Journal of Architecture 5 (2).
    http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/nucturenature/ article/view/4249
  12. Bailey, G. A. (2010), The Andean Hybrid Baroque Convergent Cultures in the Churches of Colonial Peru, Notre Dame, University of Notre Dame Press.
  13. Creswell, J. W. (2008). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. California: Sage Publications, Inc