Konfigurasi Ruang Permukiman Tepi Air Mariso dan Tallo Ditinjau dari Aspek Keberlanjutan

by

Edward Syarif

Lab. Disain Perumahan dan Lingkungan Permukiman, Departemen  Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin.

https://doi.org/10.32315/jlbi.7.1.1

Abstrak

Permukiman Mariso dan Tallo berlokasi di tepian air Makassar. Kedua permukiman ini terbentuk tidak terencana oleh proses reklamasi akibat sosial budaya masyarakat setempat.  Proses reklamasi menyebabkan terbentuknya permukiman baru dan mengubah lingkungan tepian air Makassar. Hal ini berdampak pada konfigurasi ruang permukiman, sehingga mempengaruhi aspek keberlanjutan kawasan tepian air. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan konfigurasi ruang permukiman tepi air Mariso dan Tallo, serta pengaruhnya terhadap aspek keberlanjutan.  Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik analisis sinkronik yang didukung oleh metode space syntax dan prinsip-prinsip keberlanjutan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa permukiman Mariso berkembang memanjang dari daratan ke arah laut, sedangkan permukiman Tallo berkembang sejajar mengikuti bentuk sungai. Konfigurasi ruang permukiman Mariso membentuk pola menyebar sehingga terbentuk ruang-ruang yang terintegrasi, sedangkan konfigurasi ruang permukiman Tallo membentuk pola tidak menyebar sehingga terbentuk ruang-ruang yang tersegregasi. Konfigurasi ruang permukiman Mariso dan Tallo tidak memperhatikan konsep keberlanjutan dan berdampak pada kerusakan  lingkungan tepian air. Konsep keberlanjutan hanya mengalami peningkatan pada aspek ekonomi, sedangkan aspek sosial budaya dan ekologi akan mengalami kemunduran. Tulisan ini dapat menjadi konsep pengembangan permukiman tepian air yang beradaptasi dengan lingkungan, sosial dan budaya setempat.

Kata-kunci : keberlanjutan, konfigurasi ruang, Mariso, space syntax, Tallo

Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia 7 (1), 1-8
Download PDF

Daftar Pustaka

  1. BKTRN. (2001), Panduan Penataan Ruang dan Pengembangan Kawasan, Jakarta.
  2. Breen, A. & Rigby, D. (1994). Waterfront-Cities Reclaim Their Edge. Mc. Graw-Hill, New York.
  3. Cakaric, J. (2010), Water Phenomenon-Urban Morphology Transformation,  Facta Universitatis Series,  Architecture And Civil Engineering Vol. 8, No 4.
  4. Darjosanjoto, E. T. S. (2007). Permeability Maps of Residential Settlemets Within The Coastal Area of Surabaya, Indonesia. Proceedings, 6th International Space Syntax Symposium. İstanbul.
  5. Darjosanjoto, E. T. S. (2006). Penelitian Arsitektur di bidang Perumahan dan Permukiman, ITS Press, Surabaya.
  6. Hassan, A. S. (2010). Reviews On Old City Landscape With Reference to Traditional Fishing Village Settlements in Western Coastal Region, Peninsular Malaysia. Journal of Human Settlements, Vol. 2 July 2010. Bandung.
  7. Hillier,  B. & Hanson, J. (1984). The Social Logic of Space, Cambridge University Press. London.
  8. Kostof, S. (1991).  The City Shaped, MIT Press, New York.
  9. Rahman, H.  (2006).  Pola  Penataan  Zona, Massa dan Ruang Terbuka Pada Perumahan Waterfront. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Petra Vol.34 No.2, Surabaya.
  10. Sairinen, Rauno and Kumpulainen, Satu. (2006), Assessing Social Impacts In Urban Waterfront Regeneration. Journal Elsevier, Environmental Impact Assessment Review 26.
  11. Syarif, E. (2007). Pola Spasial Permukiman Padat Tepian Air Makassar. Jurnal Rona Arsitektur. Unhas, Makassar.
  12. Syarif, E., Darjosanjoto, E. T. S., & Antaryama, I. G. N. (2015). The Coastal Changes and Its Influence on The Spatial Configuration of Mariso Settlement, Indonesia. International Journal of Education and Research, Vol. 3 No.3, Australia.