Keberlanjutan Arsitektur di Kampung Naga

by

Pancawati Dewi

Program Magister Arsitektur, Universitas Gunadarma

https://doi.org/10.32315/jlbi.9.1.48

Abstrak

Perubahan yang terjadi pada rumah tinggal masyarakat Kampung Naga tidak bisa dihindarkan. Perubahan disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi dan budaya yang berkembang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Interpretive-Historical. Kunci dari metode penelitian ini adalah interpretasi. Hal ini dilakukan untuk mencoba memahami fenomena yang ada di lapangan (sebuah kelompok masyarakat yang subyektif) dan membawanya kepada interpretasi yang obyektif. Perubahan tata letak dan material rumah tidak dapat dihindarkan guna menyesuaikan adanya kebutuhan baru dan teknologi masa kini. Perubahan pola tatanan rumah tinggal dan adanya penambahan ruang baru menunjukkan keramahan dan keterbukaan masyarakat Kampung Naga dalam menyambut wisatawan. Adapun upaya untuk tetap melestarikan tradisi mereka menunjukkan kuatnya jati diri masyarakat di Kampung Naga dalam menghadapi perubahan jaman. Perletakan perapian saat ini cenderung tetap, meskipun dapat mengalami pergeseran letak. Perapian yang memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kampung Naga dari dahulu kala mampu dijaga keberlangsungannya hingga hari ini.

Kata-kunci : hawu, keberlangsungan, perubahan, ruang

Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia 9 (1), 48-54
Download PDF

Daftar Pustaka

  1. Dewi, P. (2011). Peran Perapian dalam Rumah Tinggal Masyarakat Tengger, Studi Kasus: Desa Ngadisari Tengger (Disertasi S3, ITS, 2011. Tidak dipubikasikan).
  2. Dewi P., Budiyanto H., & Safeyah M., Hasan R. (2016). The Concept of Hearth to Legitimize Nusantara Architecture in Indonesia. Traditional Dwellings and Settlements Working Paper Series Titles 2016-2017, 278. IASTE University of California, Berkeley USA.
  3. Dewi, P., Trilita, M. N. & Safeyah, M. (2017). Genealogy of Hearth in Nusantara House. DIMENSI Journal of Architecture and Built Environment, UK Petra Surabaya. 44 (2), Desember 2017 hal. 111-116.
  4. Groat, L. & Wang, D. (2002). Architectural Research Methods. Hoboken: John Wiley & Sons, Inc., USA.
  5. Johnston & Gonlin. (1998). Function and Meaning in Classic Maya Architecture. Dumbarton Oaks Research Library and Collection, Washington, DC.
  6. Kent, S. (1990). A cross-cultural study of segmentation architecture, and the use of space. In: Domestic Architecture and the Use of Space. Kent, S., Cambridge University Press, 127-152.
  7. Permana (2015). Kampung Naga, Pengetahuan Ekologi Tradisional dan Pelestarian Keanekaragaman Hayati Tumbuhan. Plantaxia. Yogyakarta.
  8. Suganda (2006). Sarigendyanti (2008). dalam Permana. (2015). Kampung Naga, Pengetahuan Ekologi Tradisional dan Pelestarian Keanekaragaman Hayati Tumbuhan. Plantaxia. Yogyakarta.
  9. Tzortzy, K. (2007). Museum Building Design and Exhibition Layout: Pattern of Interaction, Proceedings, 6th International Space Syntax Symposium, Istanbul.
  10. Unwin, S. (1997). Analysing Architecture. London: Routledge.
  11. Westcott, J. (Eds.). (2014). Fireplace. Italy: la Biennale di Venezia/Rem Koolhaas.