Boeh: Elemen Busana Penentu Hierarki Ruang Perempuan pada Masyarakat Budaya Padi Kasepuhan Ciptagelar

by

Puji Astutik1, Susilo Kusdiwanggo2

1 Laboratorium Seni dan Desain Arsitektur, Program Sarjana Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya.
2 Laboratorium Seni dan Desain Arsitektur, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya.

https://doi.org/10.32315/jlbi.9.1.41

Abstrak

Ketika berinteraksi dengan padi dan turunannya, masyarakat budaya padi (padi culture) Kasepuhan Ciptagelar selalu mengelola secara ritual dalam satu siklus yang terus berulang. Terdapat relasi signifikan antara waktu, pelaku dan aktivitas memperjalankan padi. Urutan konstelasi ini menghadirkan teritori dan ruang yang baik secara fisik maupun metafisik bagi laki-laki dan perempuan. Ruang perempuan hadir pada saat ritual padi dilaksanakan. Kehadirannya dikenali secara langsung dari busananya. Boeh, elemen busana dari relasi sakuren domain budaya busana menandakan pemakainya sebagai pemimpin ritual sekaligus entitas ke-3 dari relasi sakuren. Setiap realitas menunjukan hierarki ruang perempuan yang berjenjang. Dengan menggunakan metode kualitatif-eksplanatif melalui paradigma empiris, dengan hipotesis penelitian. Penelitian antropologi-arsitektur ini bertujuan untuk menguji teori domain budaya busana yang dipakai pada saat ritual sebagai penentu hierarki ruang perempuan. Hasil penelitian membuktikan dan memperkuat hipotesis, bahwa domain budaya busana yang menghadirkan boeh pada perempuan saat ritual menunjukan hierarki tertinggi dari ruang perempuan.

Kata-kunci : Boeh, hierarki ruang, ruang perempuan, ritual, sakuren

Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia 9 (1), 41-47
Downlaod PDF

Daftar Pustaka

  1. Astutik, P. (2019). Membaa Boeh: Penentu Hierarki Ruang Perempuan pada Masyarakat Budaya Padi Kasepuhan Ciptagelar. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.
  2. Buckham, J. W. (1913). Dualism or Duality? The Harvard Theological Review, 6 (2), 156-171. Cambridge University Press on behalf of the Harvard Divinity School.
  3. Barr, N. C. (1913). The Dualism of Bergson . The Phiosophical Review, 22 (6), 639-652. Duke University Press on behalf of Philosophical Review .
  4. Creswell, J. (2014). Research Design. Singapore: Sage Publication .
  5. Hamilton, R W. (2003). The Art of Rice: Spirit and Sustenance in Asia. UCLA Fowler Museum of Cultural History Los Angeles.
  6. Kusdiwanggo, S. (2011). Aspek Gender pada Arsitektur Lumbung . Prosiding Seminar Nasional The Local Tripod , pp. 110-116.
  7. Kusdiwanggo, S., & Sumardjo, J. (2016). Sakuren: Konsep Spasial sebagai Prasyarat Keselamatan Masyarakat Budaya Padi di Kasepuhan Ciptagelar . Panggung 26 (3), 309-322.
  8. Kusdiwanggo, S. (2017). Membaca Batang Padi. Ruang Presentasi Perpustakaan MPR. (Unpublish)
  9. Kusdiwanggo, S. (2017). Membaca Dualism Anthithesis dan Dualism-Harmony sebagai Dasar Memahami Konsensus Ruang Nusantara. Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) , 93-100.
  10. Levi-Strauss, C. (1963), Structural Antropology, New York, Basic Book, 1963.
  11. Rahman, T. D., & Kusdiwanggo, S. (2018). Sakuren dan Paparakoan: Konsep Ruang Perempuan pada Masyarakat Budaya Padi Kasepuhan Ciptagelar. Jurnal Fakultas Teknik Universitas Brawijaya .
  12. Sihombing (2000). Buku Pengantar Pernikahan Adat Batak. Siantar
  13. Waterson, R. The Living House, An Anthropologgy of Architecture in South-East Asia.
  14. Wardi, L. H. (2012). Pembentukan Konsep Ruang Perempuan pada Lingkungan Hunian Tradisional Suku Sasak di Dusun Sade Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah . Media Bina Ilmiah, 6 (2) .